Studi: Kurangnya Unsur Religi Picu Risiko Gangguan Kecemasan pada Anak

Avatar of Azmatun Farahiyah
Azmatun Farahiyah
A-AA+A++

AnakUI.com – Fenomena gangguan kecemasan yang kian marak menyerang generasi muda belakangan ini ternyata memiliki kaitan erat dengan pergeseran nilai budaya dan religiusitas dalam pola asuh. Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Ruhr Bochum (FBZ), Jerman, mengungkapkan bahwa minimnya peran agama dalam kehidupan sehari-hari menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya risiko masalah kesehatan mental pada anak-anak dan remaja di berbagai belahan dunia.

Analisis Global Selama Tiga Dekade di 70 Negara

Para peneliti melakukan observasi mendalam terhadap perkembangan kesehatan mental selama lebih dari 30 tahun, terhitung sejak 1989 hingga 2022. Laporan yang diterbitkan dalam jurnal Developmental Science pada Februari 2026 ini merangkum data dari 70 negara di seluruh benua.

Studi bertajuk “Global Cultural Change and Anxiety in Children and Adolescents” ini menggabungkan data prevalensi gangguan kecemasan dengan data budaya dari World Values Survey. Hasilnya menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: negara-negara yang mulai meninggalkan nilai-nilai religius justru mencatatkan lonjakan kasus gangguan kecemasan pada anak yang cukup signifikan.

Dampak Pergeseran Nilai Kemandirian yang Berlebihan

Leonard Kulisch, penulis utama studi tersebut, menjelaskan adanya perubahan standar sosial tentang bagaimana anak-anak seharusnya berperilaku. Di banyak negara, terutama di Barat, nilai-nilai tradisional seperti kepatuhan kini mulai dianggap sekunder dalam sistem pendidikan.

Fokus utama saat ini telah bergeser untuk mendorong kemandirian dan individualitas anak-anak agar lebih kompetitif dalam sistem ekonomi modern. Menariknya, analisis menunjukkan bahwa pergeseran perspektif ini justru berpotensi memicu perkembangan kecemasan yang lebih tinggi pada usia dini.

“Individualitas memang bermanfaat untuk inovasi, namun di banyak tempat, nilai-nilai ini telah melampaui ambang batas yang sehat,” ungkap Kulisch mengutip laporan dari Phys.org.

Mengapa Religiusitas Menjadi Faktor Kunci?

Penelitian ini menyoroti bahwa penurunan religiusitas dalam pengasuhan merupakan faktor risiko paling signifikan. Hal ini terjadi karena agama secara tradisional berfungsi sebagai:

  • Sumber Komunitas: Menumbuhkan rasa kebersamaan dan jaringan sosial yang stabil.
  • Bimbingan Hidup: Memberikan arah dan makna dalam rutinitas sehari-hari.
  • Stabilitas Emosional: Mengurangi rasa kesepian dalam lingkup keluarga.

Saat peran agama memudar secara bertahap, muncul semacam “kekosongan” sumber daya mental. Tanpa adanya pegangan nilai yang komunal, keluarga cenderung menjadi lebih terisolasi secara sosial, yang pada akhirnya berdampak pada stabilitas psikologis anak.

Memperkuat Rasa Komunal Lewat Cara Alternatif

Mengingat urgensi agama yang mulai kehilangan tempat di banyak masyarakat modern, Kulisch menekankan pentingnya mencari cara alternatif untuk memperkuat faktor pelindung kesehatan mental. Penguatan rasa kebersamaan tidak harus selalu melalui jalur religi, namun harus tetap mengedepankan aspek komunal.

Beberapa aktivitas yang disarankan untuk menangkal gangguan kecemasan antara lain:

  1. Keterlibatan aktif dalam klub atau kelompok minat khusus.
  2. Partisipasi dalam berbagai kegiatan sipil dan sosial.
  3. Program khusus di sekolah yang dirancang untuk mendorong interaksi sosial yang erat.

Pusat penitipan anak dan institusi pendidikan kini memegang tanggung jawab besar untuk menciptakan ekosistem yang mendukung rasa memiliki di antara anak-anak. Dengan membangun jaringan sosial yang kuat, risiko gangguan kecemasan diharapkan dapat ditekan meskipun nilai-nilai tradisional dalam masyarakat terus berubah.

Pos Terkait

Read Also

Pendaftaran Bantuan Pendidikan BI 2026 Dibuka, Mahasiswa D3-S1 Merapat!

AnakUI.com – Kabar gembira bagi insan akademik di...

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *