Skrol untuk membaca pos
Example 325x300
⚡Berita Terbaru
This is a notification. You can use shortcodes, links, and any text you want.
Example floating
Example floating
Example 728x250

Siasat Pemudik "Colong Start" di Weekend Terakhir Ramadan: Berburu Tiket hingga Hindari Macet Horor

mbah wage
Example 468x60
A-AA+A++

Siasat Pemudik "Colong Start" di Weekend Terakhir Ramadan: Berburu Tiket hingga Hindari Macet Horor

AnakUI.com Yogyakarta – Gelombang pemudik yang memilih pulang kampung lebih awal mulai memadati berbagai titik keberangkatan pada akhir pekan terakhir Ramadan 2026. Fenomena "colong start" ini terlihat nyata di stasiun kereta api, pelabuhan, hingga ruas jalan tol. Ribuan warga sengaja mengatur jadwal keberangkatan lebih cepat demi menghindari puncak arus mudik yang diprediksi akan sangat padat dalam beberapa hari ke depan.

Example 300x600

Pilihan untuk mudik lebih dini ini bukan tanpa alasan. Sebagian besar warga mengaku ingin menikmati waktu lebih lama di kampung halaman, sementara yang lain didorong oleh faktor fleksibilitas waktu kerja dan libur sekolah yang sudah dimulai. Di balik pergerakan ini, terselip beragam cerita perjuangan, mulai dari "perang" tiket yang menguras emosi hingga strategi perjalanan lintas pulau yang melelahkan namun tetap dijalani dengan antusias.

Di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, suasana riuh pemudik sudah terasa sejak Minggu pagi. Salah satu cerita datang dari Erky, seorang pemudik tujuan Semarang. Baginya, bisa duduk di kursi kereta api menuju kampung halaman adalah sebuah kemenangan kecil. Erky mengaku harus melewati proses panjang dan penuh ketidakpastian untuk mendapatkan tiket kereta api.

"Penuh perjuangan sih. Kadang-kadang waktu kita mau nyari itu sudah habis. Kita pantau terus siapa tahu ada yang batalin atau mungkin ada tambahan gerbong gitu. Jadi kita harus sering-sering rajin pantau tiap hari," ujar Erky saat ditemui di sela keberangkatannya.

Ketekunan menjadi kunci bagi Erky. Di tengah tingginya permintaan, ia tidak menyerah pada status "habis" di aplikasi pemesanan. Baginya, mudik tahun ini terasa spesial karena menjadi momen pertamanya kembali menggunakan moda transportasi kereta api setelah masa pandemi COVID-19 berlalu. Kenyamanan dan efisiensi waktu menjadi alasan utama mengapa ia tetap setia memilih kereta api meski harus bersaing ketat dengan jutaan calon penumpang lainnya.

Berbeda dengan Erky yang harus memantau layar ponsel setiap saat, Tri Budiarto memilih strategi perencanaan matang sejak jauh hari. Pemudik tujuan Solo ini sudah mengamankan tiketnya sejak sebulan yang lalu. Langkah antisipatif ini ia ambil karena sudah mengetahui jadwal pasti libur dari tempatnya bekerja.

Tri menjelaskan bahwa perusahaannya sudah memberikan izin libur mulai tanggal 14 Maret. Tanpa membuang waktu, ia langsung memesan tiket untuk keberangkatan tanggal 15 Maret. "Ya, karena dari perusahaan yang saya ini sudah mulai libur. Waktu terakhir kerja itu tanggal 14 kemarin. Makanya nyari tiket tuh yang tanggal 15," kata Tri.

Tidak hanya tiket berangkat, Tri juga sudah memikirkan skenario arus balik. Ia mengambil langkah berani dengan menambah masa cuti hingga akhir Maret agar tidak terjebak dalam kepadatan arus balik yang biasanya terjadi serentak. Dengan tambahan cuti hingga tanggal 31 Maret, ia merasa lebih tenang dan bisa menikmati momen Lebaran bersama keluarga tanpa bayang-bayang kemacetan parah saat kembali ke Jakarta.

Sementara itu, di jalur laut, Pelabuhan Merak juga mulai menunjukkan peningkatan aktivitas. Ahmad, seorang pemudik yang menempuh perjalanan darat cukup jauh dari Surabaya, tampak sedang bersiap menyeberang menuju Jambi. Perjalanan Ahmad adalah potret nyata bagaimana pemudik lintas pulau harus mengatur stamina dan waktu dengan sangat presisi.

Ahmad memulai perjalanannya dari Surabaya pada Sabtu malam sekitar pukul 23.00 WIB. Setelah menempuh perjalanan darat belasan jam, ia tiba di Merak pada Minggu siang sekitar pukul 13.00 WIB. Keputusannya untuk berangkat lebih awal didasari oleh keinginan kuat untuk menghindari kemacetan horor yang kerap terjadi di jalur menuju pelabuhan saat mendekati hari H Lebaran.

"Saya ingin bertemu dengan keluarga di Jambi, sudah lama tidak ke sana. Biar nggak macet, jadi lebih sepi," ungkap Ahmad. Baginya, berangkat di akhir pekan terakhir Ramadan adalah pilihan paling logis agar durasi perjalanan tidak membengkak akibat antrean panjang kendaraan di pelabuhan maupun di jalan tol.

Kondisi lalu lintas yang relatif masih lancar juga menjadi alasan bagi Darmawan, pemudik asal Tebet, Jakarta Selatan. Bersama keluarganya, Darmawan memilih mudik menuju Lampung dengan memanfaatkan waktu libur sekolah anak-anaknya. Ia menyadari bahwa menunggu hingga masa cuti bersama dimulai hanya akan memperbesar risiko terjebak macet berjam-jam di jalan.

Darmawan terpantau sedang beristirahat di Rest Area Km 43 Tol Jakarta-Merak sebelum melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan. Ia menceritakan bahwa perjalanan dari Jakarta Selatan menuju titik tersebut tergolong sangat lancar. Berangkat pukul 10.25 WIB, ia sudah sampai di Km 43 pada pukul 12.10 WIB.

"Kebetulan sekolah anak sudah libur dan kerjaan di Jakarta sudah selesai, jadi saya pilih mudik awal. Kita jalan santai saja, tidak buru-buru juga. Kondisi masih lenggang ini," tuturnya. Darmawan memprediksi ia akan tiba di Pelabuhan Merak pada sore hari, sebuah estimasi waktu yang sangat ideal dibandingkan jika ia berangkat saat puncak arus mudik nanti.

Pilihan warga untuk mudik lebih awal ini secara tidak langsung membantu mendistribusikan beban arus lalu lintas agar tidak menumpuk di satu waktu. Namun, ketenangan ini diprediksi tidak akan bertahan lama. Petugas di lapangan memperkirakan bahwa eskalasi jumlah kendaraan dan penumpang akan meningkat drastis dalam hitungan hari.

Puncak arus mudik Lebaran 2026 sendiri diperkirakan akan jatuh pada tanggal 18 Maret 2026. Tanggal tersebut bertepatan dengan dimulainya masa libur bersama bagi para pekerja swasta maupun Aparatur Sipil Negara (ASN). Pada titik itulah, simpul-simpul transportasi seperti Stasiun Gambir, Pelabuhan Merak, dan Tol Trans Jawa diprediksi akan mencapai titik jenuhnya.

Secara editorial, fenomena mudik dini di akhir pekan terakhir Ramadan ini menunjukkan pergeseran pola pikir masyarakat yang semakin melek strategi perjalanan. Mudik bukan lagi sekadar pulang kampung, melainkan sebuah operasi logistik pribadi yang membutuhkan perencanaan matang, mulai dari perburuan tiket yang kompetitif hingga pemilihan waktu keberangkatan yang taktis.

Bagi mereka yang sudah berada di perjalanan atau bahkan sudah sampai di kampung halaman, kenyamanan yang didapatkan saat ini adalah buah dari keberanian mengambil keputusan untuk berangkat lebih awal. Sementara bagi pemerintah dan operator transportasi, pergerakan dini ini menjadi ujian awal sebelum menghadapi gelombang besar yang sesungguhnya pada pertengahan pekan depan.

Dengan kondisi cuaca yang dinamis dan volume kendaraan yang terus bertambah, para pemudik yang masih bersiap berangkat diimbau untuk terus memantau informasi terkini terkait kondisi lalu lintas dan ketersediaan tiket. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama di atas keinginan untuk cepat sampai, agar momen kemenangan di hari Lebaran nanti bisa dirayakan dengan penuh kebahagiaan bersama keluarga tercinta.

Example 300250
Example 120x600
Example 728x250