Selamat Jalan Birute Galdikas: Legenda Orang Utan yang Pilih Tanah Dayak

Avatar of Azmatun Farahiyah
Azmatun Farahiyah
Selamat Jalan Birute Galdikas: Legenda Orang Utan yang Pilih Tanah Dayak
SC : kompasiana.com
A-AA+A++

AnakUI.com – Langit di atas kanopi hutan hujan tropis Kalimantan seolah meredup seiring dengan kabar duka yang menyelimuti dunia konservasi internasional. Sosok legendaris yang mendedikasikan lebih dari separuh abad hidupnya untuk melindungi primata endemik Indonesia, Prof. Dr. Birute Mary Galdikas, dikabarkan telah mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa, 24 Maret 2026.

Kabar kepulangan tokoh yang dikenal sebagai salah satu dari “Trimates” ini membawa kesedihan mendalam, tidak hanya bagi komunitas pencinta lingkungan, tetapi juga bagi Pemerintah Indonesia. Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, secara resmi menyampaikan rasa dukacita yang mendalam atas hilangnya salah satu pejuang konservasi paling gigih yang pernah dimiliki dunia.

Kabar Duka dari Jantung Hutan Kalimantan

Kepergian Birute Galdikas menjadi kehilangan besar bagi Indonesia. Selama puluhan tahun, namanya identik dengan upaya penyelamatan orang utan di Kalimantan Tengah. Beliau bukan sekadar peneliti asing yang datang dan pergi, melainkan sosok yang telah menyatu dengan ekosistem dan masyarakat lokal di pedalaman hutan.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa Indonesia baru saja kehilangan salah seorang putri terbaiknya. Meski lahir di Jerman dan berkebangsaan Kanada-Amerika, dedikasi Birute terhadap bumi nusantara melampaui batas-batas kewarganegaraan. Beliau bekerja dalam senyap, jauh dari hiruk-pikuk kota besar, demi memastikan keberlangsungan hidup habitat orang utan.

“Selamat jalan Ibu Prof. Dr. Birute Mary Galdikas! Indonesia kehilangan salah seorang putri terbaik yang bekerja keras dalam senyap selama puluhan tahun di pedalaman hutan Kalimantan Tengah untuk konservasi habitat orang utan,” ujar Raja Juli Antoni dalam keterangan resminya pada Rabu, 25 Maret 2026.

Pernyataan ini menegaskan betapa signifikannya peran Birute dalam peta konservasi nasional. Selama ini, beliau menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan global dan kearifan lokal dalam menjaga kelestarian hutan hujan tropis.

Perjuangan Melawan Kanker dan Kerinduan pada Rimba

Di balik ketangguhannya menghadapi tantangan di tengah hutan, Birute Galdikas ternyata tengah berjuang melawan penyakit serius dalam beberapa waktu terakhir. Kabar duka ini diterima langsung oleh Menhut melalui putra Birute, yang bernama Fred.

Berdasarkan keterangan Fred, sang ibunda mengidap kanker paru-paru. Penyakit inilah yang akhirnya membatasi ruang gerak sang profesor. Dalam beberapa bulan terakhir, kondisi kesehatannya tidak memungkinkan bagi Birute untuk menempuh perjalanan jauh dari kediamannya di Los Angeles, Amerika Serikat, menuju Indonesia.

Menariknya, meski raga berada jauh di seberang samudra, hati dan pikiran Birute tetap tertambat di Kalimantan. Fred menceritakan bahwa ibunya sangat merindukan suasana hutan Kalimantan, suara-suara primata di pagi hari, dan aroma tanah basah setelah hujan di Tanjung Puting. Kerinduan ini menjadi bukti betapa kuatnya ikatan batin antara sang aktivis dengan alam Indonesia.

Kanker paru yang dideritanya mungkin telah melemahkan fisiknya, namun semangatnya untuk terus memantau perkembangan konservasi di Indonesia tidak pernah padam hingga saat-akhir hayatnya.

Wasiat Terakhir: Pulang ke Pangkuan Bumi Dayak

Salah satu poin paling mengharukan dari kabar kepergian Birute Galdikas adalah wasiat terakhir yang beliau tinggalkan. Sebagai sosok yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di tengah masyarakat Dayak, Birute memiliki permintaan khusus mengenai tempat peristirahatan terakhirnya.

Beliau berkeinginan untuk dimakamkan di tanah Dayak, Kalimantan Tengah. Permintaan ini bukan tanpa alasan. Birute ingin beristirahat selamanya di dekat pusara suaminya, Pak Bohap bin Jalan, seorang pria lokal Dayak yang telah lebih dulu berpulang.

Fred menyampaikan wasiat Bu Birute bahwa bila beliau meninggal nanti, beliau ingin dimakamkan di tanah Dayak, di Kalteng, berdekatan dengan pusara suaminya,” ungkap Menhut Raja Juli Antoni.

Wasiat ini menunjukkan betapa Birute telah menganggap Kalimantan sebagai rumah sejatinya. Beliau tidak ingin kembali ke tanah kelahirannya, melainkan ingin menyatu dengan tanah yang telah beliau bela selama lebih dari 50 tahun. Saat ini, pihak keluarga melalui Fred sedang mengurus administrasi penerbangan jenazah dari Los Angeles menuju Jakarta melalui KJRI LA untuk kemudian diteruskan ke Kalimantan Tengah.

Jejak Langkah Sang Pionir di Camp Leakey

Berbicara tentang Birute Galdikas tidak bisa dilepaskan dari sejarah Camp Leakey di Taman Nasional Tanjung Puting. Beliau tiba di sana pada tahun 1971, saat infrastruktur masih sangat minim dan tantangan alam begitu berat. Bersama mendiang suaminya, beliau membangun pusat rehabilitasi dan penelitian yang kini menjadi rujukan dunia.

Sebagai salah satu murid dari antropolog ternama Louis Leakey, Birute mengemban misi besar untuk memahami perilaku orang utan. Jika Jane Goodall fokus pada simpanse dan Dian Fossey pada gorila, maka Birute memilih orang utan sebagai fokus hidupnya.

Tak hanya itu, Birute juga dikenal karena pendekatannya yang sangat humanis. Beliau tidak hanya meneliti dari kejauhan, tetapi juga terlibat langsung dalam proses rehabilitasi orang utan yatim piatu akibat deforestasi atau perburuan liar. Di bawah bimbingannya, ratusan orang utan berhasil dikembalikan ke alam liar.

Keberadaan Camp Leakey kini menjadi warisan hidup yang terus memberikan dampak positif bagi ekosistem Kalimantan. Tempat ini telah melahirkan banyak peneliti muda Indonesia yang terinspirasi oleh dedikasi tanpa batas sang profesor.

Kehilangan Besar bagi Diplomasi Lingkungan Indonesia

Di sisi lain, kepergian Birute Galdikas juga meninggalkan celah dalam diplomasi lingkungan Indonesia di mata internasional. Selama ini, sosoknya sering menjadi rujukan bagi organisasi lingkungan global mengenai kondisi riil di lapangan.

Menteri Kehutanan mengakui bahwa kerja keras Birute dilakukan “dalam senyap”. Beliau tidak banyak mencari panggung publik, namun hasil kerjanya dirasakan secara nyata oleh masyarakat lokal dan kelestarian satwa. Kehadirannya memberikan legitimasi bahwa upaya konservasi di Indonesia dilakukan dengan standar keilmuan yang tinggi namun tetap menghargai konteks sosial budaya setempat.

Sebagai catatan, dedikasi Birute telah membuahkan berbagai penghargaan internasional. Namun, bagi masyarakat di sekitar Tanjung Puting, beliau lebih dari sekadar ilmuwan peraih penghargaan; beliau adalah bagian dari keluarga besar mereka.

Proses repatriasi jenazah dari Amerika Serikat ke Indonesia diharapkan dapat berjalan lancar. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Kehutanan dipastikan akan memberikan dukungan penuh untuk memenuhi wasiat terakhir sang pejuang lingkungan ini.

Menjaga Nyala Api Konservasi Pasca-Galdikas

Kini, tugas berat menanti generasi penerus. Kepergian Birute Galdikas harus menjadi momentum bagi semua pihak untuk memperkuat komitmen dalam menjaga habitat orang utan. Tantangan seperti perubahan iklim, konversi lahan, dan konflik antara manusia dan satwa masih menjadi ancaman nyata di depan mata.

Pemerintah Indonesia, melalui Kemenhut, berkomitmen untuk terus melanjutkan visi dan misi yang telah dirintis oleh Birute. Pelestarian hutan Kalimantan bukan hanya soal menjaga pohon, tetapi juga menjaga warisan semangat dari mereka yang telah memberikan hidupnya untuk bumi ini.

Sebagai penghormatan terakhir, pemakaman Birute di tanah Dayak nantinya diharapkan menjadi simbol abadi bahwa perjuangan konservasi adalah perjuangan kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat geografis.

Selamat jalan, Birute Mary Galdikas. Jasa-jasamu akan terus hidup dalam setiap kepakan dahan pohon di rimba Kalimantan dan dalam setiap tatapan mata orang utan yang kini bisa hidup bebas di alam liar berkat tangan dinginmu. Indonesia berutang budi pada pengabdianmu yang luar biasa.

Pos Terkait

Read Also

Insanul Fahmi Pilih Jauhi Inara Rusli demi Fokus Cerai di Medan

AnakUI.com – Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan selebritas yang...

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *