Rumah Katon Bagaskara di Kebayoran Baru Terendam Banjir Luapan Kali Grogol
AnakUI.com – Pemandangan tak biasa menghiasi lini masa media sosial sore ini ketika salah satu kawasan elit di Jakarta Selatan justru menyerupai aliran sungai. Vokalis legendaris KLa Project, Katon Bagaskara, membagikan momen mengejutkan saat kediamannya di Kebayoran Baru diterjang banjir hebat pada Senin (4/5/2026).
Bathtub Terendam Air Kali: Potret Pilu di Kediaman Katon Bagaskara
Kejadian yang menimpa Katon Bagaskara menjadi pengingat keras bahwa bencana banjir tidak lagi memandang status kawasan. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, pelantun lagu "Negeri di Awan" ini memperlihatkan kondisi rumahnya yang sangat memprihatinkan. Air berwarna kecokelatan tampak telah merangsek masuk ke dalam ruangan, merusak estetika hunian yang biasanya tertata rapi.
Salah satu pemandangan yang paling menyita perhatian netizen adalah kondisi kamar mandi di rumah tersebut. Dalam video yang diunggahnya, terlihat area kamar mandi sudah sepenuhnya tenggelam. Bahkan, bathtub yang seharusnya menjadi tempat relaksasi justru penuh terisi oleh air luapan sungai yang masuk tanpa permisi.
"Gokil rumah saya kebanjiran. Belum ada solusi dari pemerintah. Ini saya di Kebayoran Baru," ujar Katon Bagaskara dengan nada getir dalam kutipan videonya, Senin (4/5/2026). Unggahan ini pun langsung dibanjiri komentar dari penggemar dan rekan sesama artis yang ikut prihatin melihat kondisi hunian sang musisi.

Jeritan dari Kebayoran Baru: Kritik Keras Terhadap Drainase Kota
Kebayoran Baru selama ini dikenal sebagai salah satu jantung kemewahan di Jakarta. Namun, curah hujan tinggi yang mengguyur kawasan tersebut sejak siang hingga sore hari memaksa penghuninya menghadapi realitas pahit. Bagi Katon Bagaskara, banjir kali ini bukan sekadar musibah alam, melainkan cerminan dari kegagalan manajemen air di tingkat kota.
Dalam keterangannya, Katon Bagaskara secara gamblang menyuarakan kekecewaannya terhadap kinerja pemerintah daerah. Ia menilai solusi yang dijanjikan selama ini belum memberikan dampak nyata bagi warga di lingkungannya. Keluhan ini menjadi representasi dari kegelisahan warga Jakarta Selatan yang kerap kali harus berjibaku dengan genangan air setiap kali hujan deras melanda dalam durasi yang lama.
Kekecewaan Katon Bagaskara memuncak saat ia melihat air yang masuk ke rumahnya bukan lagi sekadar genangan hujan, melainkan air buangan yang meluap. Kondisi ini memaksa dirinya untuk mengevakuasi barang-barang berharga ke lantai yang lebih tinggi, sebuah rutinitas yang melelahkan bagi siapa pun yang tinggal di ibu kota.
Beban Berat Kali Grogol dan Dampak Pembangunan Apartemen Arteri
Ada poin menarik yang disampaikan oleh Katon Bagaskara terkait penyebab banjir di kawasannya. Ia menunjuk Kali Grogol sebagai sumber masalah utama. Menurut pengamatannya, sungai tersebut sudah tidak mampu lagi menampung debit air yang ada. Hal ini diperparah dengan dugaan adanya buangan air yang masif dari gedung-gedung tinggi di sekitar lokasi.
"Gokill!! Tolong Pak Prram! Rumah saya di Kebayoran Baru makin kebanjiran, karena Kali Grogol yang sudah penuh buangan air dari apartemen-apartemen yang banyak sepanjang Jalan Arteri," tulis Katon Bagaskara dalam keterangan unggahannya.

Pernyataan ini menyoroti isu tata kota yang krusial. Pembangunan apartemen dan gedung komersial di sepanjang Jalan Arteri diduga tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas drainase yang memadai. Akibatnya, saat hujan deras tiba, sistem pembuangan air dari gedung-gedung besar tersebut justru membebani Kali Grogol, yang pada akhirnya meluap ke pemukiman warga di sekitarnya.
Menanti Janji Pemerintah: Mengapa Banjir Masih Menghantui Kawasan Elit?
Penyebutan nama "Pak Pram" dalam unggahan Katon Bagaskara merujuk pada harapan besar warga terhadap pemangku kebijakan saat ini. Sebagai tokoh publik, Katon Bagaskara menggunakan pengaruhnya untuk menarik perhatian pemerintah agar segera mengambil langkah konkret. Ia berharap ada audit menyeluruh terhadap sistem drainase di sepanjang Jalan Arteri dan normalisasi Kali Grogol yang lebih efektif.
Masalah banjir di Jakarta memang kompleks, namun bagi warga yang terdampak, alasan teknis seringkali terdengar seperti pembelaan diri. Warga membutuhkan aksi nyata, seperti pembersihan sedimen sungai secara berkala, pembangunan sumur resapan yang fungsional, hingga penertiban izin bangunan yang abai terhadap dampak lingkungan.
Kondisi rumah Katon Bagaskara yang kebanjiran menjadi bukti bahwa sistem pertahanan banjir di Jakarta Selatan perlu dievaluasi total. Jika kawasan sekelas Kebayoran Baru saja bisa terendam hingga masuk ke dalam rumah, bagaimana dengan nasib warga di kawasan padat penduduk yang secara geografis lebih rendah?
Efek Domino Cuaca Ekstrem dan Urgensi Solusi Makro Jakarta
Curah hujan yang tinggi di awal Mei 2026 ini memang diprediksi oleh sejumlah lembaga meteorologi sebagai bagian dari anomali cuaca. Namun, cuaca ekstrem seharusnya sudah bisa diantisipasi dengan infrastruktur yang mumpuni. Banjir yang dialami Katon Bagaskara hanyalah satu dari sekian banyak titik genangan yang muncul di Jakarta sore ini.

Dampak banjir ini tidak hanya merugikan secara materiil bagi para pemilik rumah, tetapi juga mengganggu mobilitas di kawasan strategis. Kemacetan panjang biasanya menyusul di titik-titik banjir, menciptakan efek domino yang merugikan produktivitas warga secara keseluruhan.
Sebagai catatan, Katon Bagaskara bukan satu-satunya figur publik yang vokal mengenai masalah ini. Namun, keberaniannya untuk menunjukkan detail kerusakan di dalam rumahnya, termasuk bathtub yang penuh air sungai, memberikan gambaran visual yang kuat betapa mendesaknya perbaikan infrastruktur air di Jakarta.
Harapan besar kini tertuju pada langkah cepat dinas terkait untuk menyedot genangan dan memastikan aliran Kali Grogol kembali normal. Bagi Katon Bagaskara dan warga Kebayoran Baru lainnya, mereka hanya menginginkan satu hal: ketenangan saat hujan turun, tanpa harus khawatir rumah mereka berubah menjadi kolam air sungai yang kotor.








Tidak ada Respon