anakui.com – Di balik deretan buku yang berdebu dan arsip-arsip tua yang tersimpan rapi, terselip narasi besar tentang bagaimana bangsa ini dirancang untuk menjadi raksasa intelektual sejak masa awal kemerdekaan. Jauh sebelum era digital mendominasi layar gawai kita, para pendiri bangsa ternyata telah meletakkan batu pertama literasi sebagai fondasi utama dalam struktur pembangunan nasional.
Dalam sebuah diskusi mendalam yang membuka tabir sejarah, Rieke Diah Pitaloka mengungkapkan bahwa perpustakaan bukanlah sekadar pelengkap, melainkan jantung dari memori kolektif yang menentukan arah masa depan Indonesia. Pernyataan ini menjadi sorotan utama dalam Seminar Nasional bertajuk "Merawat Pustaka dan Memartabatkan Bangsa" yang digelar oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI pada Selasa, 12 Mei 2026.
Visi Besar Pembangunan Nasional Semesta Berencana
Sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah memiliki peta jalan pembangunan yang sangat komprehensif. Rieke Diah Pitaloka, yang kini menjabat sebagai Anggota Komisi VIII DPR RI, memaparkan temuan menarik dari koleksi buku pribadinya yang memuat konsep Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PPNSB).
Dokumen historis ini membuktikan bahwa sejak dekade 1960-an, perpustakaan telah diposisikan sebagai elemen strategis dalam rancangan pembangunan nasional. Menurut Rieke, rancangan tersebut tidak hanya melihat perpustakaan sebagai gedung penyimpanan, tetapi sebagai instrumen untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat akan ilmu pengetahuan dan bacaan berkualitas.
Target pemenuhan kebutuhan literasi ini sudah ditetapkan secara terukur sejak era tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya data, riset, dan dokumentasi telah menjadi bagian dari DNA pemerintahan Indonesia sejak masa awal, meskipun dalam perjalanannya sering kali terabaikan oleh dinamika politik.
Perpustakaan Desa sebagai Ujung Tombak Literasi
Salah satu poin paling krusial yang diangkat oleh Rieke adalah mengenai konsep perpustakaan desa. Ternyata, gagasan untuk menghadirkan akses informasi hingga ke pelosok negeri bukanlah isu baru yang muncul di era modern, melainkan warisan pemikiran dari para pendahulu bangsa.
Dalam perencanaan pembangunan awal kemerdekaan, setiap desa di Indonesia diamanatkan untuk memiliki tiga pilar utama:
- Sekolah Rakyat sebagai pusat pendidikan dasar.
- Koperasi sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.
- Perpustakaan Desa sebagai pusat informasi dan pengetahuan warga.
Kehadiran perpustakaan di tingkat desa dianggap setara pentingnya dengan lembaga ekonomi. Rieke menekankan bahwa perpustakaan tidak boleh hanya terkonsentrasi di kota-kota besar. Literasi harus menyentuh akar rumput agar cita-cita mewujudkan bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur dapat tercapai secara merata.
Transformasi Peran: Dari Tempat Membaca Menjadi Pusat Keahlian
Ada pergeseran paradigma yang menarik dalam paparan Rieke Diah Pitaloka mengenai fungsi perpustakaan nasional. Ia menegaskan bahwa konsep awal Perpustakaan Nasional bukan sekadar tempat bagi orang untuk datang dan membaca buku secara pasif.
Lebih jauh dari itu, perpustakaan dirancang sebagai pusat pendidikan bagi para ahli perpustakaan atau pustakawan. Ini berarti perpustakaan memiliki fungsi sebagai lembaga riset dan pengembangan sumber daya manusia yang spesifik mengelola pengetahuan.
Pustakawan, dalam visi ini, adalah penjaga gawang ilmu pengetahuan yang bertugas mengkurasi, merawat, dan mendistribusikan informasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Tanpa ahli yang mumpuni, tumpukan buku dan arsip hanya akan menjadi benda mati yang kehilangan maknanya bagi pembangunan bangsa.
Relevansi Perpustakaan Fisik di Era Digitalisasi
Di tengah gempuran teknologi informasi dan kecerdasan buatan, muncul pertanyaan besar: apakah perpustakaan fisik masih diperlukan? Rieke dengan tegas menyatakan bahwa perpustakaan tetap memegang posisi vital sebagai gudang ilmu pengetahuan yang tak tergantikan oleh algoritma digital semata.
Meskipun saat ini kita telah memasuki era perpustakaan digital, keberadaan buku-buku fisik dan arsip asli tetap memiliki nilai historis dan otentisitas yang tinggi. Rieke berpendapat bahwa perkembangan teknologi tidak seharusnya membuat kita meninggalkan koleksi lama.
Beberapa alasan mengapa perpustakaan fisik tetap relevan meliputi:
- Ruang Penyimpanan Pengetahuan: Menjadi tempat aman bagi hasil riset dan karya intelektual bangsa yang mungkin belum terdigitalisasi sepenuhnya.
- Memori Kolektif: Buku lama mengandung konteks zaman yang memberikan perspektif berbeda dalam memahami sejarah pembangunan.
- Kedaulatan Data: Memastikan bahwa pengetahuan bangsa tidak hanya bergantung pada platform digital milik pihak ketiga atau asing.
Sinergi Lintas Sektor dalam Menjaga Kekayaan Pustaka
Seminar nasional ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari peringatan Hari Buku Nasional 2026 sekaligus merayakan HUT ke-46 Perpusnas RI. Kepala Pusat Pembinaan Pustakawan Perpusnas, Agus Sutoyo, menekankan pentingnya kolaborasi untuk merawat bahan pustaka di seluruh penjuru Indonesia.
Tantangan dalam merawat koleksi pustaka sangatlah kompleks, mulai dari faktor cuaca, bencana alam, hingga kurangnya tenaga ahli di daerah. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, dan sektor swasta.
Upaya menjaga koleksi ini bukan hanya soal fisik buku, tetapi juga soal menjaga keberlangsungan pemikiran-pemikiran besar yang tertuang di dalamnya. Dengan membangun pemahaman bersama, diharapkan seluruh pemangku kepentingan dapat bergerak serentak dalam memartabatkan bangsa melalui penguatan literasi.
Refleksi Kritis atas Posisi Perpustakaan Saat Ini
Kepala Perpusnas RI, E Aminudin Aziz, mengajak seluruh peserta seminar untuk melakukan refleksi mendalam. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, perpustakaan harus terus bertanya pada dirinya sendiri: apakah masih menjadi rujukan utama bagi masyarakat dalam mencari ilmu?
Momentum ulang tahun ke-46 ini menjadi titik balik bagi Perpusnas untuk mengevaluasi layanannya. Kehadiran tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang dalam seminar ini menunjukkan betapa luasnya spektrum pengaruh perpustakaan.
Selain Rieke Diah Pitaloka, acara ini juga menghadirkan perspektif dari:
- Arys Hilman Nugraha (Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia) yang menyoroti ekosistem perbukuan.
- Bagus Muljadi (Director of Indonesia Doctoral Training Partnership, University of Nottingham) yang membawa perspektif riset internasional.
- Chaerul Umam (Presiden ASEAN Public Libraries Network) yang melihat posisi perpustakaan Indonesia dalam kancah regional.
Keberagaman narasumber ini menegaskan bahwa urusan perpustakaan adalah urusan lintas disiplin. Dari penerbitan hingga riset tingkat doktoral, semuanya bermuara pada sejauh mana kita mampu mengelola dan menghargai pustaka yang kita miliki.
Menuju Indonesia Emas dengan Literasi Berbasis Sejarah
Mengacu pada apa yang disampaikan oleh Rieke, masa depan Indonesia sebenarnya sudah dipetakan dengan sangat baik di masa lalu. Tugas generasi sekarang adalah menyambung lidah sejarah tersebut dan mengadaptasinya dengan kemajuan teknologi saat ini.
Perpustakaan harus kembali menjadi pusat gravitasi intelektual di setiap level masyarakat. Mulai dari perpustakaan nasional yang megah hingga perpustakaan desa yang bersahaja, semuanya harus berfungsi optimal sebagai mesin pencerdas kehidupan bangsa.
Dengan merawat pustaka, kita sebenarnya sedang merawat identitas dan martabat kita sebagai bangsa yang besar. Sejarah pembangunan nasional sejak 1960-an telah memberi kita pelajaran berharga bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang tidak pernah melupakan arsip dan buku-bukunya.
Melalui komitmen yang kuat dari para pembuat kebijakan seperti Rieke Diah Pitaloka dan kerja keras lembaga seperti Perpusnas RI, harapan untuk melihat perpustakaan kembali berjaya sebagai pilar pembangunan nasional bukanlah hal yang mustahil. Literasi adalah kunci, dan perpustakaan adalah pintunya.








Tidak ada Respon