Prabowo Targetkan RI Produksi HP & Komputer Sendiri, Akhiri Era Pasar

Avatar of Razzan Jr
Razzan Jr
A-AA+A++

AnakUI.com – Di tengah hiruk-pikuk transformasi digital global, Indonesia sering kali hanya dipandang sebagai "ladang emas" bagi para raksasa teknologi dunia untuk mengeruk keuntungan dari basis konsumennya yang masif. Namun, sebuah narasi baru sedang disusun di koridor kekuasaan, mengisyaratkan bahwa masa depan di mana perangkat elektronik yang kita genggam bukan lagi sekadar barang impor, melainkan karya orisinal anak bangsa, mungkin tidak akan lama lagi menjadi kenyataan.

Presiden Prabowo Subianto memberikan sinyal kuat mengenai arah kebijakan ekonomi nasional yang akan datang, dengan menempatkan kemandirian teknologi sebagai pilar utama industrialisasi. Dalam sebuah momen krusial di rapat paripurna DPR yang membahas kerangka ekonomi dan kebijakan fiskal 2027, sang Presiden menegaskan bahwa Indonesia harus berhenti menjadi penonton di rumah sendiri. Visi ini bukan sekadar retorika politik, melainkan sebuah peta jalan ambisius untuk mengubah struktur ekonomi Indonesia dari berbasis konsumsi menjadi berbasis produksi teknologi tinggi.

Visi Besar di Balik Pidato 20 Mei 2026

Tepat pada Rabu, 20 Mei 2026, sebuah tanggal yang secara simbolis bertepatan dengan semangat kebangkitan nasional, Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan para anggota legislatif di Kompleks Parlemen, Senayan. Dalam pidatonya, ia menggarisbawahi bahwa kemerdekaan sejati di abad ke-21 tidak hanya diukur dari kedaulatan wilayah, tetapi juga kedaulatan teknologi. Ia menekankan bahwa ketergantungan pada produk asing, mulai dari kendaraan hingga perangkat komunikasi, adalah rantai yang harus segera diputus.

"Kita harus industrialisasi. Kita harus bikin mobil kita sendiri, kita harus bikin motor kita sendiri, kita harus bikin televisi, komputer, handphone kita sendiri," tegas Prabowo dengan nada yang penuh keyakinan. Pernyataan ini mencerminkan kegelisahan mendalam terhadap posisi Indonesia yang selama puluhan tahun hanya menjadi pasar bagi bangsa lain. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, potensi pasar domestik Indonesia memang sangat menggiurkan bagi perusahaan global, namun nilai tambah ekonomi yang tertinggal di dalam negeri masih sangat minim.

Menariknya, Presiden tidak hanya bicara soal keinginan, tetapi juga soal harga diri bangsa. Ia menyoroti bagaimana rasa rendah diri sering kali menghambat inovasi lokal. Baginya, kemampuan intelektual orang Indonesia tidak kalah dengan bangsa lain, hanya saja kesempatan dan ekosistem pendukungnya yang selama ini belum terakomodasi dengan baik oleh kebijakan pemerintah.

Danantara: Mesin Penggerak Modal Industrialisasi

Salah satu poin paling strategis dalam pidato tersebut adalah peran Danantara. Lembaga pengelolaan investasi yang baru dibentuk di masa pemerintahan Prabowo ini dirancang untuk menjadi "super holding" yang mengonsolidasikan aset-aset besar BUMN. Tujuannya jelas: menciptakan kekuatan finansial yang masif untuk mendanai proyek-proyek industrialisasi yang membutuhkan modal besar, termasuk sektor manufaktur teknologi.

Danantara diharapkan mampu mempercepat pembiayaan pembangunan, khususnya dalam menyediakan modal kerja bagi industri-industri strategis. Selama ini, hambatan utama bagi merek lokal untuk berkembang adalah keterbatasan akses modal untuk riset dan pengembangan (R&D) serta pembangunan pabrik dengan skala ekonomi yang kompetitif. Dengan adanya dukungan investasi strategis melalui lembaga ini, pemerintah berharap para pemain lokal bisa memiliki napas yang lebih panjang untuk bersaing dengan raksasa global.

Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah mulai menyadari bahwa industrialisasi teknologi tidak bisa hanya mengandalkan investasi asing (FDI) yang sering kali hanya membawa teknologi perakitan, bukan teknologi inti. Melalui konsolidasi aset di bawah Danantara, Indonesia mencoba membangun kemandirian finansial untuk mendukung kemandirian teknologi.

Tantangan Nyata: Melampaui Angka TKDN 35%

Meskipun visi Presiden sangat memukau, realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Hingga saat ini, Indonesia memang sudah menerapkan aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 35% untuk perangkat smartphone yang dipasarkan di tanah air. Namun, angka tersebut sering kali dikritik karena komponen yang dihitung sebagai "lokal" biasanya bukan merupakan komponen utama seperti chipset, layar, atau sensor kamera, melainkan lebih kepada kemasan, aksesori, atau sekadar biaya tenaga kerja perakitan.

Sebagai catatan, merek-merek global seperti Samsung, Apple, Oppo, hingga Xiaomi masih mendominasi pasar Indonesia dengan sangat dominan. Di sisi lain, nama-nama lokal seperti Axioo, Zyrex, dan Polytron di sektor komputer, serta Advan, Mito, Evercoss, hingga Nexian di sektor ponsel, masih berjuang keras untuk mendapatkan kepercayaan konsumen luas.

Merek-merek lokal ini sering kali terjebak dalam persepsi produk "kelas dua" atau hanya mampu bermain di segmen entry-level. Untuk bisa bersaing dengan Apple atau Samsung, Indonesia membutuhkan lompatan teknologi yang signifikan, bukan sekadar perakitan ulang komponen dari luar negeri. Inilah yang menjadi alasan mengapa Prabowo menekankan pentingnya keterlibatan para pakar dan akademisi dalam agenda ini.

Mobilisasi Intelektual: Mengumpulkan Para Profesor dan Pakar

Salah satu bagian paling menarik dari pidato Prabowo adalah pengakuannya bahwa ia telah mulai mengumpulkan para intelektual terbaik bangsa. "Saya sudah kumpulkan profesor-profesor kita, saya sudah kumpulkan pakar-pakar kita, saya katakan pengabdianmu untuk bangsa, wujudkan hal ini," ungkapnya. Langkah ini menandakan pergeseran strategi dari sekadar kebijakan ekonomi menjadi gerakan nasional berbasis ilmu pengetahuan.

Indonesia sebenarnya memiliki banyak talenta di bidang teknik dan teknologi informasi yang bekerja di perusahaan-perusahaan teknologi besar di Silicon Valley atau Eropa. Dengan memanggil mereka pulang dan memberikan wadah yang tepat melalui program-program pemerintah, impian untuk memiliki sistem operasi sendiri atau desain sirkuit terpadu (IC) buatan lokal bukan lagi hal yang mustahil.

Keterlibatan para pakar ini juga diharapkan dapat membantu pemerintah dalam merumuskan standar teknologi yang sesuai dengan kebutuhan lokal namun tetap kompetitif secara global. Inovasi teknologi anak bangsa harus didorong melalui insentif pajak yang agresif bagi perusahaan yang melakukan riset di dalam negeri, serta perlindungan hak kekayaan intelektual yang lebih kuat.

Hilirisasi Digital: Dari Nikel ke Komponen Chipset

Strategi industrialisasi teknologi ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan kelanjutan dari agenda besar hilirisasi komoditas strategis. Presiden Prabowo menjelaskan bahwa pengolahan nikel, logam tanah jarang (rare earth), hingga pengembangan industri kendaraan listrik adalah fondasi bagi industri teknologi yang lebih luas.

Logam tanah jarang, misalnya, merupakan komponen krusial dalam pembuatan berbagai perangkat elektronik modern, mulai dari layar smartphone hingga magnet pada motor listrik. Dengan menguasai rantai pasok dari hulu (pertambangan dan pemurnian) hingga ke hilir (manufaktur komponen), Indonesia memiliki posisi tawar yang sangat kuat di mata dunia.

"Kita tidak boleh menyerah, tidak boleh kita rasa rendah diri," kata Prabowo. Pesan ini ditujukan agar bangsa Indonesia tidak lagi hanya bangga mengekspor tanah dan air, tetapi bangga mengekspor produk dengan nilai tambah tinggi. Jika hilirisasi nikel telah berhasil mengguncang industri baterai dunia, maka hilirisasi ke arah perangkat komputer dan HP adalah langkah logis berikutnya untuk memperkuat kedaulatan ekonomi digital.

Menumbuhkan Wirausaha Digital dan Startup Nasional

Selain fokus pada industri manufaktur skala besar, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada ekosistem startup dan wirausaha muda. Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah tengah menyiapkan program pendidikan entrepreneurship yang lebih sistematis serta skema kredit khusus bagi startup.

Hal ini penting karena industri teknologi tidak hanya soal perangkat keras (hardware), tetapi juga perangkat lunak (software) dan ekosistem digital yang menyertainya. "Kita harus dorong mereka, memberi kesempatan mereka untuk tumbuh jadi pengusaha-pengusaha yang kuat, pengusaha-pengusaha yang baru," ujar Presiden.

Dengan memberikan akses permodalan yang lebih mudah bagi anak muda, pemerintah berharap akan muncul inovator-inovator baru yang mampu menciptakan solusi digital bagi masalah-masalah lokal. Dukungan bagi startup lokal ini diharapkan dapat menciptakan efek bola salju, di mana permintaan akan perangkat keras buatan dalam negeri juga akan meningkat seiring dengan berkembangnya aplikasi dan layanan digital lokal.

Menatap Masa Depan: Mungkinkah Indonesia Mandiri di 2027?

Pertanyaan besar yang tersisa adalah seberapa cepat visi ini bisa terwujud. Menetapkan target dalam kerangka fiskal 2027 menunjukkan bahwa pemerintah ingin bergerak cepat. Namun, membangun industri teknologi yang kompetitif membutuhkan waktu, konsistensi kebijakan, dan stabilitas politik.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperkuat infrastruktur riset dan memastikan bahwa pendidikan vokasi di Indonesia mampu menghasilkan tenaga kerja yang siap pakai untuk industri manufaktur teknologi tinggi. Selain itu, pemerintah juga perlu memberikan contoh dengan menggunakan produk-produk dalam negeri dalam pengadaan barang dan jasa di instansi pemerintahan secara masif.

Tak hanya itu, kolaborasi antara BUMN yang dikelola oleh Danantara dengan sektor swasta lokal dan global akan menjadi kunci. Indonesia tidak harus menutup diri dari teknologi asing, melainkan harus mampu melakukan transfer teknologi secara efektif sehingga dalam jangka panjang, ketergantungan tersebut bisa dikurangi secara bertahap.

Sebagai penutup, ambisi Presiden Prabowo Subianto untuk melihat Indonesia memproduksi komputer dan handphone sendiri adalah sebuah panggilan untuk bangkit dari zona nyaman sebagai konsumen. Jika rencana ini dijalankan dengan integritas dan didukung oleh seluruh elemen bangsa, maka label "Made in Indonesia" pada perangkat teknologi masa depan bukan lagi sekadar mimpi, melainkan simbol kekuatan ekonomi baru di Asia Tenggara.

Pos Terkait

Read Also

Strategi B50: Langkah Berani Indonesia Akhiri Dominasi Impor BBM

AnakUI.com – Bayang-bayang krisis energi global dan fluktuasi...

Satria, Sapi Raksasa 1,2 Ton Milik Prabowo yang Hebohkan Lamongan

AnakUI.com – Tradisi kurban di Indonesia selalu menyimpan...

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *