anakui.com – Di balik kepulan asap dapur di tengah malam buta, terselip doa dan kerja keras yang akhirnya berbuah tiket menuju Eropa. Muhammad Badar Agung, seorang pemuda sederhana asal Kebumen, membuktikan bahwa nasib bisa diubah melalui ketekunan luar biasa di bangku sekolah.
Lulus sebagai salah satu siswa terbaik Angkatan VI dari SMA Unggulan CT Arsa Sukoharjo, langkah kaki Badar kini bersiap menapak di tanah Belanda. Keberhasilannya menembus universitas kelas dunia bukan sekadar prestasi akademik, melainkan sebuah kemenangan atas garis kemiskinan yang sempat menghimpit keluarganya.
Perayaan Kelulusan yang Penuh Isak Tangis dan Harapan
Suasana haru menyelimuti acara pelepasan siswa di SMA Unggulan CT Arsa Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Kamis (21/5/2026). Nama Muhammad Badar Agung menggema di ruangan tersebut sebagai salah satu lulusan terbaik yang berhasil mengharumkan nama sekolah.
Bagi Badar, momen ini terasa sangat emosional karena ia menyadari bahwa ini adalah titik balik dalam hidupnya. Di satu sisi, ada rasa sedih yang mendalam karena harus berpisah dengan teman-teman seperjuangannya yang telah menjadi keluarga kedua selama tiga tahun terakhir.
Namun, di sisi lain, ada kobaran semangat untuk menjemput impian yang selama ini tampak mustahil bagi seorang anak penjual jajanan pasar. Ia mengakui bahwa perasaannya campur aduk antara kebahagiaan atas kelulusan dan kesedihan karena perpisahan.
Keputusan untuk melanjutkan studi ke luar negeri diambilnya dengan penuh pertimbangan matang demi masa depan keluarga. Ia menyadari bahwa kesempatan ini adalah pintu gerbang untuk mengangkat derajat orang tuanya yang telah berkorban segalanya.
Badai Pandemi dan Lumpuhnya Sang Ayah
Kisah sukses Badar tidak dimulai dari kemudahan, melainkan dari sebuah krisis keluarga yang sangat berat. Dahulu, ayahnya bekerja sebagai penjual tasbih di depan Pasar Jatinegara, Jakarta, sebuah pekerjaan yang cukup untuk menghidupi keluarga secara sederhana.
Namun, badai datang ketika pandemi Corona melanda dunia, yang membawa dampak kesehatan serius bagi sang ayah. Ayah Badar mengalami serangan stroke yang membuatnya tidak lagi mampu bekerja dan harus vakum total dari aktivitas mencari nafkah.
Kondisi ini sempat mengguncang stabilitas ekonomi keluarga mereka di Kebumen. Sebagai anak, Badar menyaksikan bagaimana pilar utama keluarga mereka harus terbaring sakit di saat ia sedang berjuang mengejar pendidikan.
Kehilangan sumber penghasilan utama memaksa keluarga ini untuk memutar otak agar dapur tetap mengepul dan pendidikan Badar tetap berjalan. Di sinilah peran sang ibu muncul sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang mengambil alih seluruh beban keluarga.
Perjuangan Ibu: Lemper Midnight dan Kerja Keras Tanpa Batas
Melihat suaminya tak lagi berdaya, ibu Badar tidak menyerah pada keadaan dan memilih untuk mulai berjualan jajanan pasar. Setiap hari, sang ibu harus berjibaku dengan waktu, memulai aktivitasnya saat dunia masih terlelap dalam mimpi.
Badar menceritakan dengan nada lirih bagaimana ibunya hampir tidak pernah memiliki waktu tidur yang cukup. Biasanya, tepat pada pukul 12.00 malam, sang ibu sudah mulai sibuk di dapur untuk menyiapkan bahan-bahan pembuatan lemper dan risol.
Proses pembuatan jajanan ini dilakukan secara manual dengan penuh ketelatenan agar rasa dan kualitasnya tetap terjaga. Setelah matang, jajanan tersebut kemudian dititipkan ke berbagai warung dan pasar untuk dijual kepada pelanggan.
Pada awal usahanya, sang ibu hanya mampu menitipkan sekitar 10 hingga 20 biji lemper saja. Namun, berkat kegigihan dan doa yang tak putus, bisnis kecil-kecilan ini mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan dari waktu ke waktu.
Kini, usaha jajanan pasar tersebut telah berkembang pesat hingga mampu melayani pesanan dari banyak orang. Dari yang awalnya hanya puluhan, kini sang ibu bisa memproduksi 100 hingga 200 biji lemper dalam sehari, sebuah pencapaian yang sangat disyukuri oleh Badar.
Menembus Wageningen University: Kiblat Teknologi Pangan Dunia
Ketekunan Badar di sekolah akhirnya membuahkan hasil yang sangat prestisius dengan diterimanya ia di Wageningen University, Belanda. Universitas ini dikenal secara global sebagai salah satu institusi pendidikan terbaik di dunia, khususnya dalam bidang pertanian dan teknologi pangan.
Badar berhasil lolos di tiga jurusan berbeda di kampus tersebut, yaitu Data Science, Food Technology (Teknologi Pangan), dan Environmental Technology (Teknologi Lingkungan). Ketiga jurusan ini merupakan bidang strategis yang sangat dibutuhkan untuk masa depan pembangunan berkelanjutan.
Penerimaan di Wageningen University merupakan bukti bahwa kualitas lulusan sekolah unggulan di Indonesia mampu bersaing di level internasional. Badar kini tengah menimbang pilihan terbaik yang akan ia ambil untuk menunjang kariernya di masa depan.
Keberhasilan ini juga menjadi oase bagi keluarganya, membuktikan bahwa kerja keras sang ibu memeras keringat setiap malam tidak sia-sia. Belanda, yang jaraknya ribuan kilometer dari Kebumen, kini menjadi tujuan nyata bagi pemuda yang terbiasa membantu ibunya membungkus lemper ini.
Menunggu Kabar dari Australia hingga Kampus Top Dalam Negeri
Meski sudah mengantongi tiket ke Belanda, ambisi Badar tidak berhenti sampai di situ saja. Ia masih menunggu hasil pengumuman dari beberapa universitas ternama lainnya di Australia untuk memperluas peluangnya.
Saat ini, ia sedang dalam proses menunggu pengumuman dari Monash University untuk jurusan Applied Data Science. Selain itu, ia juga berencana untuk mendaftarkan diri di University of New South Wales (UNSW) dengan mengambil bidang Engineering.
Di kancah nasional, Badar juga tetap menjaga peluangnya dengan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur SNBT. Ia memilih dua kampus teknik terbaik di Indonesia sebagai cadangan dan bentuk pengabdian jika tetap berkuliah di dalam negeri.
Pilihan pertamanya di Indonesia adalah Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan jurusan Sistem Informasi. Sementara itu, pilihan keduanya jatuh pada Universitas Brawijaya (UB), juga pada jurusan Sistem Informasi.
Strategi ini menunjukkan bahwa Badar adalah sosok yang sangat terencana dan memiliki visi yang jelas terhadap masa depannya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan setiap peluang yang ada, baik di tingkat internasional maupun nasional.
Pesan Menyentuh untuk Sang Ibu: "Tunggu Ya Bu, Bentar Lagi Aku Sukses"
Di balik semua prestasi mentereng tersebut, Badar tetaplah seorang anak yang rendah hati dan sangat mencintai orang tuanya. Usai dinyatakan lulus, kata-kata pertama yang ingin ia sampaikan kepada ibunya adalah permohonan maaf.
Ia merasa selama ini sering merepotkan ibunya, terutama dengan beban biaya pendidikan dan kebutuhan hidup yang tidak sedikit. Baginya, ucapan terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membalas setiap tetes keringat ibunya yang jatuh di dapur tengah malam.
"Untuk ibu saya, saya mungkin lebih banyak minta maaf daripada terima kasih, karena pasti saya sering ngerepotin ibu," ucapnya dengan penuh ketulusan. Kalimat ini mencerminkan kedewasaan berpikir seorang remaja yang memahami betul arti pengorbanan orang tua.
Namun, di balik permintaan maaf itu, terselip sebuah janji suci yang ia ikrarkan untuk masa depan. Ia meminta ibunya untuk bersabar sedikit lagi karena ia bertekad akan segera meraih kesuksesan dan mengubah nasib keluarga mereka.
Janji ini menjadi bahan bakar utama bagi Badar untuk terus berjuang di negeri orang nantinya. Ia ingin membuktikan bahwa anak seorang penjual lemper bisa menjadi orang hebat yang mampu membanggakan keluarga dan negaranya.
Filosofi Kegagalan: Jangan Pernah Berhenti untuk Bangkit
Kepada teman-teman seperjuangannya, Badar memberikan pesan yang sangat inspiratif mengenai makna kegagalan. Ia menekankan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan.
Menurutnya, gagal berkali-kali adalah hal yang wajar dan tidak perlu ditakuti selama seseorang masih memiliki kemauan untuk mencoba lagi. Ia percaya bahwa setiap kegagalan membawa pelajaran berharga yang akan memperkuat mental seseorang.
"Gagal enggak apa-apa. Gagal berkali-kali, coba lagi. Gagal lagi, coba lagi," tegasnya. Pesan ini sangat relevan bagi generasi muda saat ini yang seringkali merasa putus asa ketika menghadapi hambatan dalam mengejar impian.
Badar mendefinisikan kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang memutuskan untuk berhenti bangkit dan menyerah pada keadaan. Selama kaki masih melangkah dan semangat masih berkobar, maka peluang untuk sukses akan selalu terbuka lebar.
Kisah Muhammad Badar Agung adalah pengingat bagi kita semua bahwa latar belakang ekonomi bukanlah penentu masa depan seseorang. Dengan dukungan pendidikan yang tepat seperti di SMA Unggulan CT Arsa dan kegigihan tanpa batas, mimpi setinggi langit pun bisa digapai.
Kini, dunia menanti kontribusi dari pemuda asal Kebumen ini. Dari aroma lemper di dapur sederhana, Badar siap membawa harum nama Indonesia ke panggung sains dunia di Belanda.









Tidak ada Respon